Syarat Sahnya Perjanjian Menurut Hukum yang Perlu Kamu Ketahui

Pernah nggak sih kamu nglakuin perjanjian gitu sama temen mu? pasti pernah dong ya. Minimal perjanjian utang lah gitu hehehe. Eh tapi tahu nggak sih kalau sebenarnya jual beli itu juga beisa dikatakan suatu perjanjian. Hmm nggak tahu ya? Yuk mari baca penjelasannya di bawah ini.

Perjanjian itu menimbulkan suatu perikatan, yang dimaksud perikatan adalah dimana satu pihak berhak akan sautuhal dari pihak lain yang berkewajiban untuk melakukan atau tidak melakukan suatu hal. Oleh karena itu jual beli bisa dikatakan sebagai suatu perjanjian, dimana pihak satu berjanji/terikat untuk membayar dan pihak lainnya berkewajiban untuk memberikan barangnya.

Menurut Prof. Subekti, S.H dalam bukunya yang berjudul Hukum Perjanjian dikatakan bahwa suatu perjanjian adalah peristiwa di mana seorang berjanji kepada orang lain atau di mana dua orang itu saling berjanji melaksanakan suatu hal. Tentunya ada aturannya dong ya yang di pakai Indonesia untuk membuat perjanjian ini sah hukum yang di atur dalam pasal 1320 KUH Perdata. Ini dia syarat sahnya perjanjian menurut hukum yang perlu kamu ketahui.

  1. Sepakat Mereka Yang Mengikatkan Dirinya

Maksudnya adalah kedua belah pihak yang melakukan perjanjian melakukan perjanjian tersebut tanpa adanya paksaan dari pihak yang lain. Hal ini di maksudkan agar pihak yang melakukan perjanjian tersebut bisa melakukan tanggung jawab bila terjadi wanprestasi nantinya. Karena bila dilogika orang yang dipaksa melakukan perjanjian berarti bukan dirinya sendiri yang sebenarnya melakukan perjanjian tersebut, melainkan orang lain yang memaksanya.

  1. Cakap untuk Membuat Suatu Perjanjian

Cakap maksudnya bukan ganteng alias cakep ya hehe, melainkan Cakap menurut hukum, yaitu adalah orang yang sudah dewasa, sehat secara mental. Yang di atur daam Undang-undang adalah orang yang tidak cakap hukum, Hal ini diatur juga pada Pasal 1330 KUP Perdata bahwa orang yang tidak cakap hukum tersebut adalah orang yang :

  1. Belum dewasa
  2. Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan
  3. Perempuan yang sudah menikah

Pada point C aturan tersebut sudah tidak digunakan, karena sudah di katakan pada UU Perkawinan bahwa suami dan istri memiliki hak yang sama.Untuk anak yang dibawah umur tentu saja masih boleh dalam melakukan perjanjian jual beli, namun nilai dari obyek yang diperjanjikan tentunya haruslah kecil.

  1. Mengenai Suatu Hal Tertentu

Hal tertentu ini merujuk kepada obyek apa yang diperjanjikan. Obyek yang diperjanjikan haruslah sesuatu yang nyata dan bisa dipertanggung jawabkan. Obyeknya juga haruslah tidak melanggar huku. Kalau perjanjian jual beli narkoba terus terjadi wanprestasi jelaslah nggak akan bisa diselesaikan sama Hukum alias perjanjian tersebut harusla batal demi hukum.

  1. Suatu Sebab terntenu

Maksudnya itu adalah alasan atau isi dari perjanjian tersebut. Misalnya kalau jual pisau dimana si pembeli membeli pisau untuk membunuh dan si penjual tahu. Hal tersebut jelaslah dilarang hukum. Atau mungkin juga melunasi utang bila sudah menang judi. Nah tambah nggak boleh lagi sama hukum.

Itulah syarat sahnya perjanjian yang perlu kamu ketahui. Jadi kalau ada peranjian yang gede, misal perjanjian kerja atau sama klien jangan asal tanda tangan, di lihat dulu empat unsur di atas terpenuhi atau tidak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *